Malam itu aku kembali mendengar perdebatan ayah dan kakaku mengenai kemana aku akan melangkah setelah lulus SMA. Seperti biasa, aku tak mau ambil pusing. Aku tak mau ribut dan 'ribet'. Aku terbiasa menuruti semua perintah ayah dan ibu. Tapi untuk kali ini, "aku mohon, aku telah merencanakan semua impianku" batinku pura-pura tak menghiraukan ayah dan kaka.
Seperti biasa, perdebatan itu dimenangkan oleh ayah. Aku tertunduk. Rasanya, ingin sekali aku berlari, berteriak atas ketidak-adilan ini. Aku menuliskan cita-citaku sejak aku dikenalkan dengan alfabet. Aku giat mencapai cita-citaku sejak aku bisa berfikir . lantas, apa sekarang aku pantas menelantarkan semua itu ? Untuk apa aku merangkai harapan dalam cita-citaku ? Untuk apa aku berusaha mati-matian menjadi juara kelas jika hanya untuk selembar ijazah yang kelak ku pakai untuk melamar pekerjaan ? Tak terasa, aku meneteskan air mata. Selalu begitu. Yang harus ku lakukan setelah itu adalah mengambil air wudu. Ya, hanya itu yang selalu bisa menenangkanku.
Setelah membersihkan hati dan fikiranku, baru aku berani keluar kamar menjumpai seisi rumah. Tanpa aku sadari ada tangan yang menepukku kemudian ia berbisik, "ga usah takut, mba akan mengusahakannya", ujar kakaku yang disambut peluk erat dariku sembari berurai air mata. Hanya dia yang mau memperjuangkanku. Hanya dia yang mendukungku. Dan, dia menjadi motivasiku untuk terus bangkit. Dia menyadarkanku bahwa yang harus ku lakukan sekarang adalah... Do!!!
Kamis, 03 November 2016
Do#1
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar